Menikmati suasana pagi dengan bersepeda di perbukitan imogiri serasa menyenangkan....di daerah ini banyak di jumpai wisata ziarah, karena daerah ini terletak di perbukitan makan seniman indonesia, jjika anda tertarik untuk mengunjunginya anda bisa datang langsung dari arah jogja kira 1 jam perjalanan, daerah ini terletak di kecamatan Imogiri kabupaten Bantul Jogjakarta.....
Minggu, 31 Maret 2013
Rabu, 20 Maret 2013
Makam Raja-Raja Jawa
Kompleks Makam Imogiri dibangun sekitar tahun 1632 oleh Sultan
Agung, raja terbesar Mataram yang beragama Islam. Walau begitu, bangunan
makam ini memiliki corak peninggalan Hindu yang kental.
Imogiri dilingkupi legenda, mistis dan budaya Jawa yang kental. Konon menurut cerita, pembangunan makam ini atas petunjuk tokok penyebar agama di Jawa, Sunan Kalijogo.
Keinginan pembangunan makam ini muncul saat Sultan Agung menunaikan ibadah haji di Makkah dan melihat makam nabi. Dia juga terinspirasi usai melakukan ibadah jumroh melempar batu untuk mengusir setan atau iblis di Padang Arafah.
Sultan pun pulang dan mencari lokasi makam dengan cara melempar batu. Batu itu jatuh mengarah ke sebuah kawasan pegunungan Seribu di wilayah Bantul. Akhirnya dibangunlah makam Imogiri di Bantul.
Dari gaya dan tipe bangunannya, pada bagian pintu gerbang makam dibuat dari susunan batu bata merah tanpa semen yang berbentuk candi Bentar. Menunjukan adanya pengaruh agama Hindu.
Selasar bangunan serta bagian bangunan di sekitar batu nisan makam, menunjukkan ajaran Islam. Selain itu budaya Jawa juga tercermin.
Ada tempat sesaji yang khusus berada di bagian kanan kiri batu nisan makam raja-raja. Hal itu diperuntukkan bagi tempat ziarah anak-cucu sang raja. Sebagai bentuk bhakti orang Jawa terhadap leluhurnya.
Perlakuan dan pemeliharaan makam Imogiri pun tergolong sangat istimewa dan sangat khusus. Perawatan dilakukan oleh para abdi dalem keraton Ngayogyokarto Hadiningrat dan oleh keturunan Sri Sultan Hamengkubuono dan Raja Pakubuono.
Termasuk memasuki makam raja-raja Mataram jelas tidak sama dengan memasuki pemakaman umum. Untuk masuk ke makam Sultan Agung, maka selain harus mengenakan pakaian adat Jawa, pengunjung juga harus melepas alas kaki. Mereka juga harus melalui tiga pintu gerbang.
Bahkan yang bisa langsung berziarah ke nisan para raja itu pun terbatas pada keluarga dekat raja atau masyarakat lain yang mendapat izin khusus dari pihak Kraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta.
Oleh karena itu, peziarah awam yang tidak siap mengenakan pakaian adat Jawa, terpaksa hanya bisa melihat pintu gerbang pertama yang dibuat dari kayu jati berukir dan bertuliskan huruf Jawa berusia ratusan tahun, dengan grendel dan gembok pintu kuno.
Hanya para juru kunci pemakaman itu yang bisa membuka gerbang tersebut. Masyarakat awam bisa melihat 'isi di balik pintu gerbang pertama, ketika keluarga raja datang. Saat itu, pintu gerbang dibuka lebar, dan masyarakat bisa melongok sebentar sebelum gerbang itu ditutup. Hanya sesaat. Hal itu pula yang menyebabkan misteri makam raja Mataram tetap terpelihara.
Raja-raja jaman dahulu sebagian besar bersifat sentralistik, dalam segala aspek kehidupan mengacu kepada kekuasaan tunggal yaitu Sang Maharaja. Tempat pemakamannya pun sudah dipersiapkan jauh-jauh hari dengan megah.
Makam ini terletak di atas perbukitan yang juga masih satu gugusan dengan Pegunungan Seribu. Pengunjung akan disambut oleh para Pemandu Wisata yang sudah siap mengantar.
Setelah pintu masuk, di sebelah kiri ada bangunan masjid yang cukup megah. Masjid Ngarso Dalem ini biasa digunakan untuk mensalatkan jenazah para raja sebelum dibawa ke atas bukit untuk dimakamkan.
Setelah melewati 454 tangga, baru masuk pintu ke II, Di pintu II ini ada 3 bangsal;
Pertama, Bangsal Sapit Urang adalah bangsal yang dipergunakan oleh para abdi dalem keraton Jogja. Yang kedua adalah Bangsal Hamengkubuwono untuk para Raja Yogyakarta; dan yang ketiga adalah Bangsal Pakubuwono untuk para Raja dari Keraton Solo.
Seperti kita ketahui pada masa Amangkurat V (1677) Mataram mengalami perpecahan dan akhirnya dibuatlah Perjanjian Giyanti yang membelah Mataram jadi II, yaitu Kasunanan Pakubuwono (Solo) dan Kasunanan Hamengkubuwono (Yogyakarta).
Di pintu masuk, tempat pemakaman masih dibagi lagi menjadi tiga bagian. Makam utama; yaitu makam Sri Paduka Sultan Prabu Hanyokrokusumo, Amangkurat II, Amangkurat III beserta masing-masing satu permaisurinya.
Sayap kiri terdiri dari; Pakubuwono I, Amangkurat Jawi dan Pakubuwono III. Sayap kanan terdiri dari: Ratu-ratu solo, Pakubuwono III beserta selir dan permaisurinya.
Saat mengunjungi makam, pengunjung akan mendapat petunjuk dari juru kunci untuk mengikuti aturan. Banyaknya pengunjung mengakibatkan pengelola makam untuk melakukan pengawasan ekstra ketat.
Imogiri dilingkupi legenda, mistis dan budaya Jawa yang kental. Konon menurut cerita, pembangunan makam ini atas petunjuk tokok penyebar agama di Jawa, Sunan Kalijogo.
Keinginan pembangunan makam ini muncul saat Sultan Agung menunaikan ibadah haji di Makkah dan melihat makam nabi. Dia juga terinspirasi usai melakukan ibadah jumroh melempar batu untuk mengusir setan atau iblis di Padang Arafah.
Sultan pun pulang dan mencari lokasi makam dengan cara melempar batu. Batu itu jatuh mengarah ke sebuah kawasan pegunungan Seribu di wilayah Bantul. Akhirnya dibangunlah makam Imogiri di Bantul.
Dari gaya dan tipe bangunannya, pada bagian pintu gerbang makam dibuat dari susunan batu bata merah tanpa semen yang berbentuk candi Bentar. Menunjukan adanya pengaruh agama Hindu.
Selasar bangunan serta bagian bangunan di sekitar batu nisan makam, menunjukkan ajaran Islam. Selain itu budaya Jawa juga tercermin.
Ada tempat sesaji yang khusus berada di bagian kanan kiri batu nisan makam raja-raja. Hal itu diperuntukkan bagi tempat ziarah anak-cucu sang raja. Sebagai bentuk bhakti orang Jawa terhadap leluhurnya.
Perlakuan dan pemeliharaan makam Imogiri pun tergolong sangat istimewa dan sangat khusus. Perawatan dilakukan oleh para abdi dalem keraton Ngayogyokarto Hadiningrat dan oleh keturunan Sri Sultan Hamengkubuono dan Raja Pakubuono.
Termasuk memasuki makam raja-raja Mataram jelas tidak sama dengan memasuki pemakaman umum. Untuk masuk ke makam Sultan Agung, maka selain harus mengenakan pakaian adat Jawa, pengunjung juga harus melepas alas kaki. Mereka juga harus melalui tiga pintu gerbang.
Bahkan yang bisa langsung berziarah ke nisan para raja itu pun terbatas pada keluarga dekat raja atau masyarakat lain yang mendapat izin khusus dari pihak Kraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta.
Oleh karena itu, peziarah awam yang tidak siap mengenakan pakaian adat Jawa, terpaksa hanya bisa melihat pintu gerbang pertama yang dibuat dari kayu jati berukir dan bertuliskan huruf Jawa berusia ratusan tahun, dengan grendel dan gembok pintu kuno.
Hanya para juru kunci pemakaman itu yang bisa membuka gerbang tersebut. Masyarakat awam bisa melihat 'isi di balik pintu gerbang pertama, ketika keluarga raja datang. Saat itu, pintu gerbang dibuka lebar, dan masyarakat bisa melongok sebentar sebelum gerbang itu ditutup. Hanya sesaat. Hal itu pula yang menyebabkan misteri makam raja Mataram tetap terpelihara.
Raja-raja jaman dahulu sebagian besar bersifat sentralistik, dalam segala aspek kehidupan mengacu kepada kekuasaan tunggal yaitu Sang Maharaja. Tempat pemakamannya pun sudah dipersiapkan jauh-jauh hari dengan megah.
Makam ini terletak di atas perbukitan yang juga masih satu gugusan dengan Pegunungan Seribu. Pengunjung akan disambut oleh para Pemandu Wisata yang sudah siap mengantar.
Setelah pintu masuk, di sebelah kiri ada bangunan masjid yang cukup megah. Masjid Ngarso Dalem ini biasa digunakan untuk mensalatkan jenazah para raja sebelum dibawa ke atas bukit untuk dimakamkan.
Setelah melewati 454 tangga, baru masuk pintu ke II, Di pintu II ini ada 3 bangsal;
Pertama, Bangsal Sapit Urang adalah bangsal yang dipergunakan oleh para abdi dalem keraton Jogja. Yang kedua adalah Bangsal Hamengkubuwono untuk para Raja Yogyakarta; dan yang ketiga adalah Bangsal Pakubuwono untuk para Raja dari Keraton Solo.
Seperti kita ketahui pada masa Amangkurat V (1677) Mataram mengalami perpecahan dan akhirnya dibuatlah Perjanjian Giyanti yang membelah Mataram jadi II, yaitu Kasunanan Pakubuwono (Solo) dan Kasunanan Hamengkubuwono (Yogyakarta).
Di pintu masuk, tempat pemakaman masih dibagi lagi menjadi tiga bagian. Makam utama; yaitu makam Sri Paduka Sultan Prabu Hanyokrokusumo, Amangkurat II, Amangkurat III beserta masing-masing satu permaisurinya.
Sayap kiri terdiri dari; Pakubuwono I, Amangkurat Jawi dan Pakubuwono III. Sayap kanan terdiri dari: Ratu-ratu solo, Pakubuwono III beserta selir dan permaisurinya.
Saat mengunjungi makam, pengunjung akan mendapat petunjuk dari juru kunci untuk mengikuti aturan. Banyaknya pengunjung mengakibatkan pengelola makam untuk melakukan pengawasan ekstra ketat.
PANTAI POK TUNGGAL
Surga Tersembunyi yang Menantang Nyali
"Ah, menuju ke mana perjalanan ini?" batinku ketika mobil yang membawaku dan calon Jogja Update lainnya mulai terantuk-antuk menyusuri jalan bebatuan di antara
dua bukit karang. Kami bergerak pelan sepanjang jalan 2 kilometer yang
sempit, berkelok-kelok dan agak terjal. Sekejap adrenalin berdesir
ketika melewati tikungan dengan karang besar yang menjorok di atas
kepala dengan jalan yang belum baik dan terjal.....
Lepas dari perjalanan yang mendebarkan, sebuah pemandangan cantik terbentang di depan mata. Hamparan pantai pasir putih dengan ombak biru
yang menghempas seolah menjadi penawar lelah setelah menyusuri jalan
sempit bebatuan tadi. Terlihat beberapa remaja yang asyik bermain ombak
pantai sambil sesekali bergaya di depan kamera. Sebatang pohon Duras
tumbuh rindang di bibir pantai dan menjadi ikon pantai ini. Pohon yang
konon sulit tumbuh ini sangat dijaga keberadaannya oleh penduduk
setempat, jadi janganheran bila ada teguran jika memanjat pohon
tersebut
![]() |
| jalan menuju pantai |
![]() |
![]() |
Goa Pindul & Kali Oyo
-
"Goa
Pindul & Kali Oyo"
Goa
Pindul dan Kali Oyo terletak di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan
Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.
Wisata di Goa Pindul, kita disuguhkan keindahan alam dengan menyusuri goa, banyak fenomena - fenomena yang yang membuat terkagum - kagum orang yang melihatnya, terhampar stalaktit dan stalaknit yang indah diatap goa......
Selasa, 12 Maret 2013
Ayam goreng Mbah Cemplung
Ayam
goreng satu makanan yang hampir semua orang suka, baik goreng bacem,
goreng tepung, dan lain sebaginya. Apalagi ini merupakan ayam kampong
bukan ayam potong pastilah tambah nikmat. Satu tem,pat yang menyajikan
menu ini adalah Ayam Goreng Mbah Cemplung yang terletak di dusun
sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.
Tempat ini tidak jauh dari beberapa tempat wisata yang asik untuk dikunjungi. Yang paling dekat adalah Sendang Semanggi dimana tempat ini pernah menjadi tempat laku spiritual mantan Presiden Soeharto. Agak keselatan lagi anda dapat berbelanja produk sedangkan ke utara bisa ke Padepokan Bagong atau ke pabrik Gula Madukismo. Dengan demikian tempat ini sungguh pas untuk tempat makan siang sesudah berjalan jalan menikmati indahnya wisata Yogyakarta.
Ayam goreng Mbah Cemplung setiap harinya ramai dikunjungi ini
terlihat dengan banyaknya kendaaran yang diparkir dan bahkan keluar
masuk gang yang kanan kirinya ditumbuhi pohan yang besar dan rindang
sehingga membuat suasana yang menyejukkan.
Ayam goreng mbah cemplung kelihatan tidak jauh beda dengan ayam goreng
yang lain, baik penyajian, bentuk maupun pengemasannya. Tentu saja rasa
yang menjadikan ayam goreng ini berbeda. Masakan ala Jogja cenderung
manis maka sang pemilik warung pun membuat satu resep dengan sedikit
rasa asin dan gurih dan ternyata rasa ini banyak yang cocok dan hasilnya
waung ini tidak pernah sepi pembeli.
Pemasakannya pun ayam kampong yang cenderung alot ditempat ini terasa
empuk, hal ini dikarenakan di masak dengan cara perebusan sebanyak dua
kali. Selain menambah empuk juga membuat bumbu benar benar meresap
sampai kebagaian terdalam dari daging ayam tersebut.Ayam yang digunakan
juga ayam kampong yang baru berumur sekitar 3 bulan dengan berat diatas 1
kilogram atau
istilahnya ayam dhere. Dengan pemilihan ayam yang demikian wajar saja
kalau ukuran potongan ayam di warung mbah cemplung ini tidak terlalu
besar, namun dengan satu potong saja sudah cukup mengenyangkan perut
anda.
Sajian ayam goreng mbah cemplung tidak ada sayur hanya ditemani nasi
putih dan lalapan ketimun serta sambal pedas yang mengugah selera makan.
Sambal ada dua macam berupa sambal matang dan sambal mentah. Warung ini
buka mulai jam 08.00 WIB sampai dengan Jam 16.00 WIB. Dijamin anda akan
ketagihan mengunjungi tempat ini dan tidak berpindah ketempat lain
untuk makan siang.
How to Get there :
- Taksi, dengan rute dari Pabrik Gula Madukismo kearah barat sesudah jembatan belok kiri kurang lebih satu kilometer akan ada petunjuk kearah sendang semanggi
- Dengan Kendaraan Pribadi
Komitmen kami untuk memberikan
informasi, tips, dan panduan wisata untuk Anda sekalian, Namun demikian
pemeliharaan website ini tidaklah murah, maka apabila Anda memesan hotel
silahkan klik link hotel yang ada di halaman ini untuk membantu kami
terus dapat memberikan informasi serta panduan wisata yang lebih menarik
lagi. Dan juga sarankan kami di twitter dan facebook.
Incoming search terms:
- ayam goreng mbah cemplung
- mbah cemplung
- Ayam Mbah Cemplung
- ayam goreng mbah cemplung bantul
- ayam goreng mbah cemplung jogja
- ayam cemplung
- kuliner jogja mbah cemplung
- mbah cemplung ayam goreng
- WARUNG MBAH CEMPLUNG YOGYAKARTA
- RESEP AYAM GORENG BOROBUDUR
Langganan:
Komentar (Atom)











